dakwah


Fadzakkir, inna fa’ati dzikra.”

Ayat di atas adalah ayat ke-9 dari surat Al-A’laa (surat 87).

Dalam terjemahan Depag, artinya adalah:

“oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfa’at, “

Akan tetapi, ada penafsiran yang lebih baik mengenai ayat ini. Kalau kita lihat bahasa Arab-nya, akan kita temukan bahwa arti ayat itu seharusnya adalah:

“oleh sebab itu berikanlah peringatan, jika peringatan itu bermanfa’at, “

Maksudnya, janganlah kita “asal saja” dalam memberikan peringatan. Tugas kita sebagai ummat Islam bukan sekedar menyampaikan ilmu, nasehat, atau peringatan. Apalagi kalau hanya sekedar didasari oleh alasan “yang penting dalilnya shahih”, atau alasan-alasan lainnya.

Tugas kita sebagai ummat Islam adalah memperhatikan objek dakwah kita, dan memperkirakan bagaimana akibatnya seandainya objek dakwah kita itu mendapat masukan dari kita. Setelah kita yakin bahwa hasilnya baik, maka barulah kita sampaikan apa-apa yang harus kita sampaikan.

Kesimpulannya. dakwah Islam itu bukan sekedar “menyampaikan dalil”, tapi juga harus memperhatikan kesiapan si objek dakwah.

Pendapat inilah yang dipegang oleh Imam Ibnu Katsir ketika beliau menafsirkan ayat di atas.

Advertisements

Prinsip utama dalam dakwah Islam itu bukanlah “asal dalil shahih”.
Prinsip utama dalam dakwah Islam itu juga bukan “yang penting aqidah”.

Prinsip utama dalam dakwah Islam itu adalah mengajarkan kepada orang lain, dan materinya disesuaikan dengan kemampuan orang tersebut untuk menerima bobot materi yang akan disampaikan.

Musaddad bercerita kepada kami. Dia berkata, “Mu’tamir bercerita kepadaku.” Dia berkata, “Saya mendengar dari bapak saya,” Dia berkata, “Saya mendengar Anas yang berkata, bahwa Nabi mengatakan kepada Muadz, “Barangsiapa yang menghadap Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa-pun, maka dia masuk surga.” Muadz berkata, “Tidakkah lebih baik jika kusampaikan kepada orang banyak ?” Nabi bersabda, “Jangan! Sesungguhnya aku takut mereka akan berpasrah diri.”
(HR. Bukhari).

Inilah dakwah Islam yang lurus. Inilah cara beragama yang benar. Yang memperhatikan kesiapan orang lain dalam menerima materi Islam. Yang tidak hanya berprinsip “asal dalil shahih”. Yang tidak hanya berprinsip “yang penting aqidah”. Karena, apa yang dilarang untuk disampaikan oleh Rasulullah pada hadits di atas juga adalah tentang aqidah.

Dengan cara dakwah seperti inilah Islam dahulu tersebar dengan penuh kebijakan. Dan, tentu saja, dengan cara dakwah seperti ini Insya Allah tidak akan muncul banyak pertentangan di kalangan ummat Islam sendiri.