Cara beragama yang benar


Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikannya, niscaya Allah jadikan dia paham terhadap agama-Nya.” (HR. Bukhari dalam Shahihnya Kitabul Ilmi bab Man Yuridillahu Khairan Yufaqqihhu fid Dien dari Muawiyah bin Abi Sufyan hadits ke 71)

YUFAQQIHHU fid DIIN adalah menjadikannya Faqih dalam masalah agama. Dan orang yang faqih adalah orang yang bisa memahami dalil-dalil. Jadi bukan cuma membaca dari sana-sini, lalu mengikuti kesimpulan dari bacaan itu. Orang yang hanya bisa mengikuti kesimpulan yang ditulis oleh orang lain, padahal realita di depan matanya tidak sama dengan realita di depan mata si pengarang tulisan itu, maka orang seperti ini adalah orang yang hanya sekedar TAHU atau HAFAL, dan bukan merupakan seorang yang Faqih.

Tidaklah sama orang yang hanya hafal ayat dan hadits dengan orang orang-orang yang bisa memahami ayat dan hadits itu meskipun orang yang paham ini tidak hafal ayat dan hadits yang bersangkutan. Sesungguhnya, orang-orang yang paham (faqih) jauh lebih baik dari orang-orang yang hanya hafal dalil.

Semoga Allah memberi kebaikan kepada orang yang mendengarkan perkataanku kemudian dia menghafalnya, lalu menyampaikannya sebagaimana yang dia dengarkan. Bisa jadi orang yang membawa fiqh bukanlah seorang faqih, dan bisa jadi orang yang membawa fiqh ini membawanya kepada orang yang lebih faqih daripada dirinya.”
Shahih al-Jami’as-Shaghir (6763-6766)

Advertisements

Fadzakkir, inna fa’ati dzikra.”

Ayat di atas adalah ayat ke-9 dari surat Al-A’laa (surat 87).

Dalam terjemahan Depag, artinya adalah:

“oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfa’at, “

Akan tetapi, ada penafsiran yang lebih baik mengenai ayat ini. Kalau kita lihat bahasa Arab-nya, akan kita temukan bahwa arti ayat itu seharusnya adalah:

“oleh sebab itu berikanlah peringatan, jika peringatan itu bermanfa’at, “

Maksudnya, janganlah kita “asal saja” dalam memberikan peringatan. Tugas kita sebagai ummat Islam bukan sekedar menyampaikan ilmu, nasehat, atau peringatan. Apalagi kalau hanya sekedar didasari oleh alasan “yang penting dalilnya shahih”, atau alasan-alasan lainnya.

Tugas kita sebagai ummat Islam adalah memperhatikan objek dakwah kita, dan memperkirakan bagaimana akibatnya seandainya objek dakwah kita itu mendapat masukan dari kita. Setelah kita yakin bahwa hasilnya baik, maka barulah kita sampaikan apa-apa yang harus kita sampaikan.

Kesimpulannya. dakwah Islam itu bukan sekedar “menyampaikan dalil”, tapi juga harus memperhatikan kesiapan si objek dakwah.

Pendapat inilah yang dipegang oleh Imam Ibnu Katsir ketika beliau menafsirkan ayat di atas.

Prinsip utama dalam dakwah Islam itu bukanlah “asal dalil shahih”.
Prinsip utama dalam dakwah Islam itu juga bukan “yang penting aqidah”.

Prinsip utama dalam dakwah Islam itu adalah mengajarkan kepada orang lain, dan materinya disesuaikan dengan kemampuan orang tersebut untuk menerima bobot materi yang akan disampaikan.

Musaddad bercerita kepada kami. Dia berkata, “Mu’tamir bercerita kepadaku.” Dia berkata, “Saya mendengar dari bapak saya,” Dia berkata, “Saya mendengar Anas yang berkata, bahwa Nabi mengatakan kepada Muadz, “Barangsiapa yang menghadap Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa-pun, maka dia masuk surga.” Muadz berkata, “Tidakkah lebih baik jika kusampaikan kepada orang banyak ?” Nabi bersabda, “Jangan! Sesungguhnya aku takut mereka akan berpasrah diri.”
(HR. Bukhari).

Inilah dakwah Islam yang lurus. Inilah cara beragama yang benar. Yang memperhatikan kesiapan orang lain dalam menerima materi Islam. Yang tidak hanya berprinsip “asal dalil shahih”. Yang tidak hanya berprinsip “yang penting aqidah”. Karena, apa yang dilarang untuk disampaikan oleh Rasulullah pada hadits di atas juga adalah tentang aqidah.

Dengan cara dakwah seperti inilah Islam dahulu tersebar dengan penuh kebijakan. Dan, tentu saja, dengan cara dakwah seperti ini Insya Allah tidak akan muncul banyak pertentangan di kalangan ummat Islam sendiri.

Apabila ada teman-teman kita sangat mengagumi seorang ulama, maka kita harus melihat itu dengan menggunakan kacamata kewajaran. Tidak ada salahnya bagi seorang muslim untuk merasa suka pada seorang ulama.

Akan tetapi, manakala rasa suka itu sudah menjadi rasa suka yang berlebihan, apalagi kalau dibarengi dengan sikap merasa bahwa ulamanya itu adalah satu-satunya ulama yang benar, mana ini sudah salah.

Sesungguhnya, kalau ada orang yang boleh kita ambil pendapatnya secara 100%, maka orang itu hanyalah Syaikh Muhammad bin Abdullah, dan bukan Syaikh Muhammad bin lain-nya.

Sesungguhnya, cara beragama Islam yang benar bisa dilihat dari ada tidaknya kultus individu di dalamnya.

Sebagian ummat Islam, yang sangat berbangga-diri dengan dalil-dalil satu versi, menyebutkan bahwa di dalam Islam yang namanya organisasi adalah bid’ah. Dan dari situ mereka menyimpulkan dan menghakimi bahwa organisasi-organisasi Islam seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Anshorus Sunnah adalah bid’ah, dan menyatakan bahwa aktifis-aktifis organisasi itu adalah para ahli bid’ah.

Masalahnya, benarkah pernyataan “organisasi Islam itu bid’ah” tersebut ?

Syaikh bin Baz berkata:

“Adapun jika ia bergabung dengan Ansharus-Sunnah lalu membantunya dalam kebenaran, atau dengan Ikhwanul Muslimin dan menyertai mereka dalam kebenaran tanpa bersikap ekstrem atau berlebihan MAKA HUKUMNYA TIDAK MENGAPA (la ba’sa). Adapun jika mereka komitmen kepada ucapan mereka tanpa ada batasan (ketaatan mutlak) maka yang demikian ini tidak boleh.”

…..

“Ia berputar bersama kebenaran, menolong jama’ah-jama’ah yang lain juga dalam menegakkan kebenaran, tetapi ia tidak boleh komitmen kepada suatu mazhab tertentu secara mutlak sekalipun mazhab tersebut bathil, seandainya terjadi demikian maka ini adalah munkar & tidak boleh, tetapi ia bersama jama’ah tertentu tersebut selama jama’ah tersebut berada dalam kebenaran dan tidak bersama mereka jika mereka banyak bersalahnya.”

Kesimpulan: Organisasi islam itu bukan bid’ah.

Demikian.

Pendapat Syaikh bin Baz di atas bisa dilihat di:

http://www.binbaz.org.sa/mat/21344 (pernyataan no. 6 )

Oleh: Al-‘Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang hidup setelahku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku.”Hadits ini memberi arti bahwa apabila muncul banyak golongan di tengah-tengah umat, maka jangan berafiliasi kepada satu golongan pun. Dulu muncul sekte-sekte, seperti Khawarij, Mu’tazilah, Jahmiyyah, Syi’ah, bahkan Rafidhah. Lalu, akhir-akhir ini muncul Ikhwaniyyun, Salafiyyun, Tablighiyyun, dan kelompok lain yang semisal.Letakkanlah semua kelompok ini di samping kiri dan teruslah melihat ke depan, yaitu jalan yang ditunjukkan oleh Nabi saw, “Hendaklah kalian berpegang teguh terhadap sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin.”Tidak diragukan, wajib atas semua kaum Muslimin untuk mengambil paham salaf; bukan berafiliasi pada golongan tertentu yang disebut “As-Salafiyyun”. Yang wajib adalah hendaknya umat Islam mengambil paham salafus shalih; bukan membentuk golongan yang dinamakan “As-Salafiyyun”. Berhati-hatilah terhadap perpecahan! Ada jalan salaf; ada pula golongan yang disebut “As-Salafiyyun”. Apa yang wajib? Mengikuti salaf!

Mengapa? Karena ikhwah As-Salafiyyun adalah kelompok paling dekat dengan kebenaran. Tidak diragukan. Akan tetapi, permasalahan mereka seperti kelompok lainnya. Sebagian individu kelompok ini saling menyesat-nyesatkan, membid’ahkan, dan memfasikkan. Kami tidak mengingkari hal ini apabila benar mereka layak untuk itu. Akan tetapi, kami mengingkari terapi bid’ah-bid’ah tersebut dengan cara ini. Yang wajib adalah pemimpin-pemimpin kelompok ini berkumpul. Hendaknya mereka mengatakan, “Di antara kita ada Kitabullah ‘Azza wa Jalla dan Sunnah Rasul-Nya. Marilah kita berhukum pada keduanya; bukan pada hawa nafsu, pendapat-pendapat, dan tidak pula kepada Fulan dan Fulan.” Setiap orang bisa salah dan bisa benar meski seberapa banyak ilmu dan ibadahnya. Akan tetapi, jaminan kema’shuman hanya pada agama Islam.

Nabi saw memberikan petunjuk dalam hadits ini untuk menempuh jalan yang menyelamatkan manusia; bukan berafiliasi kepada kelompok apa pun, kecuali kepada jalan salafus shalih, yaitu sunnah Nabi saw dan para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk.

Sumber : http://www.islamgold.com/view.php?gid=2&rid=33
Dari buku: Beda Salaf dengan Salafi/Kasyfu Al-Haqaiq Al-Khafiyyah ‘Inda Mudda’I As-Salafiyyah karya Mut’ab bin Suryan Al-‘Ashimi.
(Tulisan ini kami salin dari: http://salafy.wordpress.com)

Manhaj Salaf

Manhaj Salaf, bila ditinjau dari sisi kalimat merupakan gabungan dari dua kata; manhaj dan salaf . Manhaj dalam bahasa Arab sama dengan minhaj, yang bermakna: Sebuah jalan yang terang lagi mudah. (Tafsir Ibnu Katsir 2/63, Al Mu’jamul Wasith 2/957).

Sedangkan salaf, menurut etimologi bahasa Arab bermakna: Siapa saja yang telah mendahuluimu dari nenek moyang dan karib kerabat, yang mereka itu di atasmu dalam hal usia dan keutamaan. (Lisanul Arab, karya Ibnu Mandhur 7/234). Dan dalam terminologi syariat bermakna: Para imam terdahulu yang hidup pada tiga abad pertama Islam, dari para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tabi’in (murid-murid shahabat) dan tabi’ut tabi’in (murid-murid tabi’in). (Lihat Manhajul Imam As Syafi’i fii Itsbatil ‘Aqidah, karya Asy Syaikh Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab Al ‘Aqil, 1/55).

Berdasarkan definisi di atas, maka manhaj salaf adalah: Suatu istilah untuk sebuah jalan yang terang lagi mudah, yang telah ditempuh oleh para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tabi’in dan tabi’ut tabi’in di dalam memahami dienul Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Salafy

Seorang yang mengikuti manhaj salaf ini disebut dengan Salafi atau As Salafi, jamaknya Salafiyyun atau As Salafiyyun. Al Imam Adz Dzahabi berkata: “As Salafi adalah sebutan bagi siapa saja yang berada di atas manhaj salaf.” (Siyar A’lamin Nubala 6/21).

Lantas, siapakah “kelompok salafy” itu ?

“Kelompok salafy” adalah satu kelompok yang sering membedakan diri mereka dari kelompok-kelompok lain seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, atau lainnya. Dan mereka juga cenderung untuk mengatakan “Kami inilah salafy. Kami-lah yang mengikuti manhaj salaf itu”. Inilah kelompok yang telah menyalah-artikan makna manhaj salaf dari “manhaj para salafus sholeh” menjadi “manhaj selain manhaj-nya Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir atau lainnya”. Dan kelompok inilah yang telah menyalah-artikan makna Salafy dari “orang-orang yang mengikuti manhaj salaf” menjadi “kelompok selain Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir atau lainnya”.

Sebagai bukti bahwa kelompok yang “mengaku-ngaku salafy” ini memang benar-benar ada, mari kita lihat fatwa Syaikh bin Baz ketika menjelaskan masalah jama’ah-jama’ah di dalam ummat Islam. Beliau mengatakan:

“Sedangkan jama’ah-jama’ah yg lain maka tdk boleh diikuti oleh seorangpun, kecuali jika mereka sesuai kepada kebenaran, walaupun namanya al-ikhwan al-muslimun, jama’ah tabligh, ansharus sunnah ataupun MEREKA YG MENGAKU-NGAKU DIRI MEREKA SALAFI, ……”

Jadi, kelompok yang “mengklaim diri sebagai salafy”, dan menyatakan bahwa “ikhwanul muslimin, jama’ah tabligh atau lainnya adalah kelompok yang tidak mengikuti manhaj salaf” adalah kelompok yang benar-benar exist, dan mereka itulah yang telah menyalah-artikan makna manhaj salaf dan salafy itu sendiri.

Demikian.

———————

Note:

Fatwa Syaikh bin Baz di atas bisa dilihat di:

http://www.bin-baz.org.sa/Display.asp?f=bz01275.htm

kalau link-nya putus, coba link berikut:

http://www.binbaz.org.sa/mat/8371

Next Page »