Bagaimana cara yang Islami untuk memilih wakil rakyat ?

Pada masa Rasulullah saw, setiap kabilah memiliki pemimpin masing-masing. Dan mereka menentukan pemimpin itu berdasarkan cara mereka masing-masing. Salah satu kriteria yang paling sering dipakai adalah penilaian apakah dia berasal dari garis keturunan terhormat ataukah tidak

Ketika Islam datang, setiap pemimpin kabilah yang masuk Islam-pun tetap menjadi pemimpin di kabilahnya masing-masing, dan Rasulullah tidak menyuruh tiap kabilah untuk “musyawarah ulang” untuk menentukan pemimpin mereka.

Mari kita lihat Sa’d bin Mu’adz ra. ketika baru masuk Islam.

Beliau mengatakan pada kaumnya (yaitu bani Al-Asyhal di Madinah) :

“Wahai bani Abdil-Asyhal, apa yang kalian ketahui tentang kedudukanku di tengah kalian ?”

Mereka menjawab, “Engkau adalah pemimpin kami dan orang yang paling jitu pendapatnya serta nasihatnya yang paling kami percaya.”

Lalu Sa’d berkata, “Siapa pun di antara kalian, laki-laki maupun wanita tidak boleh berbicara denganku kecuali jika kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Sore harinya, tak seorang pun di antara mereka melainkan sudah menjadi Muslim atau Muslimah, kecuali satu orang saja.

Maka, bagaimanakah cara yang Islami untuk menentukan pemimpin kabilah ?

Jawabannya, itu semua diserahkan pada kabilah masing-masing, terserah mau menggunakan cara apa.

Terbukti, Sa’d bin Mu’adz adalah pemimpin di kabilahnya, pada saat dia masih musyrik, maupun setelah menjadi muslim.

—-

sumber:

Sirah Nabawiyah, karya Syaikh Shafiyyur Rahman Al-Mubarakfury, pada bab yang menceritakan awal dakwah Islam di Madinah.