“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung“. (QS. Al Hasyr, ayat 8-9)

Dalam ayat di atas, Allah subhaanahu wa ta’ala menyebutkan keutamaan kaum Muhajirin, dan setelah itu baru menyebutkan keutamaan kaum Anshar. Kaum Muhajirin mendapat gelar “orang-orang yang benar”, dan kaum Anshar mendapat gelar “orang-orang yang beruntung”.

Tampak jelas sekali bahwa Allah juga tidak menghilangkan pengelompokan di dalam ummat Islam. Baik kaum Muhajirin maupun kaum Anshar, mereka adalah dua kaum yang berbeda, tidak sama, memiliki keutamaan masing-masing, dan mereka pun saling membantu satu sama lain.

Maka, tidak benar kalau keberadaan kelompok-kelompok di dalam tubuh ummat Islam selalu identik dengan terpecah-belahnya ummat.

—–

Tafsir Ibnu Katsir, tentang ayat di atas: LINK