Apa hukum voting ?

Jelas, voting tidak haram. Karena kalau voting itu haram, maka Rasulullah tentu tidak akan mau mengikuti pendapat mayoritas dalam peristiwa perang uhud.

Berikutnya, apakah voting itu makruh ?

Karena Rasulullah ternyata pernah melakukan voting, maka kalaupun hukum dari voting adalah makruh, maka tetap saja itu menunjukkan bahwa hal yang makruh tetap boleh dikerjakan kalau memang situasi dan kondisi-nya memang mengharuskan ke arah itu. Alasannya sederhana saja: karena Rasulullah pun pernah melakukan voting.

Berikutnya, apakah voting itu wajib hukumnya ?

Tentu saja tidak. Karena sebenarnya, prinsip dasar pengambilan keputusan di dalam agama kita adalah musyawarah. Jadi, musyawarah itu-lah yang diwajibkan atau di-sunnah-kan kepada kita, dan bukan voting. Tapi kalau ternyata kita tidak bisa sepakat dalam satu masalah, maka tidak mengapa kalau kita harus melakukan voting. Inilah yang dilakukan oleh Rasulullah dahulu. Musyawarah dulu, tukar pikiran dulu, setelah itu baru ambil keputusan secara mufakat, atau kalaupun tidak bisa mufakat, minimal lewat jalur voting.

Berikutnya, apakah voting itu hukumnya sunnah ?

Tidak juga. Karena yang harus kita dahulukan adalah musyawarah, dan bukan voting.

Terakhir, apakah voting itu hukumnya mubah ?

Inilah status hukum dasar yang paling tepat untuk voting. Tapi tentu saja, hukum dasar ini bisa berubah-ubah tergantung dari situasi dan kondisi yang ada.

Sekarang, apakah hukum voting bisa berubah menjadi wajib, misalnya ?

Bisa. Misalnya dalam kasus di mana kita harus bermusyarawah dengan non-muslim yang sudah jelas-jelas tidak akan pernah menyetujui semua usulan yang pro-Islam. Kalau mampu, mari kita musyawarahkan di antara sesama muslim saja. Tapi kalau ternyata kita tetap harus mengikutsertakan non-muslim dalam rapat kita, dan kalau ternyata jumlah yang muslim lebih banyak dari yang non-muslim, maka musyawarahkan-lah di antara sesama muslim, ambil satu keputusan secara mufakat, lalu lakukan-lah voting pada saat harus berhadapan dengan pihak non-muslim. Ini adalah cara yang paling realistis bagi kita ummat Islam di Indonesia, meskipun mungkin cara ini tidak akan pernah bisa dipahami orang-orang yang memang tidak memahami realita.

Terakhir, apakah hukum voting bisa berubah menjadi haram, misalnya ?

Tentu saja bisa. Misalnya kalau semua peserta rapat adalah muslim seluruhnya, sementara hal yang sedang dibahas adalah hal-hal yang telah ditetapkan secara jelas dalam syariat agama kita. Pada kondisi seperti ini voting justru haram. Karena apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, adalah hal-hal yang tidak bisa dimusyawarahkan lagi.

Kesimpulannya, hukum dasar voting adalah mubah. Tapi, musyawarah secara mufakat tentu saja jauh lebih utama untuk dikerjakan, meskipun bukan berarti kita secara otomatis mendapat dosa kalau ternyata tidak mampu melakukan musyawarah secara mufakat. Apa akan kita katakan bahwa Rasulullah telah berdosa karena mengikuti pendapat mayoritas para shahabatnya dalam satu masalah ?