Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikannya, niscaya Allah jadikan dia paham terhadap agama-Nya.” (HR. Bukhari dalam Shahihnya Kitabul Ilmi bab Man Yuridillahu Khairan Yufaqqihhu fid Dien dari Muawiyah bin Abi Sufyan hadits ke 71)

YUFAQQIHHU fid DIIN adalah menjadikannya Faqih dalam masalah agama. Dan orang yang faqih adalah orang yang bisa memahami dalil-dalil. Jadi bukan cuma membaca dari sana-sini, lalu mengikuti kesimpulan dari bacaan itu. Orang yang hanya bisa mengikuti kesimpulan yang ditulis oleh orang lain, padahal realita di depan matanya tidak sama dengan realita di depan mata si pengarang tulisan itu, maka orang seperti ini adalah orang yang hanya sekedar TAHU atau HAFAL, dan bukan merupakan seorang yang Faqih.

Tidaklah sama orang yang hanya hafal ayat dan hadits dengan orang orang-orang yang bisa memahami ayat dan hadits itu meskipun orang yang paham ini tidak hafal ayat dan hadits yang bersangkutan. Sesungguhnya, orang-orang yang paham (faqih) jauh lebih baik dari orang-orang yang hanya hafal dalil.

Semoga Allah memberi kebaikan kepada orang yang mendengarkan perkataanku kemudian dia menghafalnya, lalu menyampaikannya sebagaimana yang dia dengarkan. Bisa jadi orang yang membawa fiqh bukanlah seorang faqih, dan bisa jadi orang yang membawa fiqh ini membawanya kepada orang yang lebih faqih daripada dirinya.”
Shahih al-Jami’as-Shaghir (6763-6766)