Hasan bin Ali ra. adalah cucu Rasulullah. Beliau adalah khalifah kelima yang terpilih secara musyarawah pada masanya. Di tengah jalan, dengan melihat kondisi ummat Islam dan kondisi dunia perpolitikan pada masa itu, beliau meletakkan diri dari jabatan beliau sebagai khalifah, meskipun beliau telah terpilih secara musyawarah, dan meskipun beliau didukung oleh mayoritas shahabat Rasulullah maupun Tabi’in yang ada saat itu.

Ini satu contoh, betapa Islam melihat bahwa kepemimpinan memiliki ruang lingkup yang sangat luas, yang tidak hanya mencakup masalah “bagaimana cara memilih pemimpinnya”, tapi juga mencakup masalah stabilitas negara, kondisi ummat Islam, legitimasi pemimpin, dan lain sebagainya.

Kalau Islam memandang masalah kepemimpinan hanya dari sudut pandang “bagaimana cara memilih pemimpin” saja, seharusnya Hasan bin Ali ra. tidak perlu mengundurkan diri dari jabatan khalifah.

Maka, kalau ada pendapat yang mengatakan bahwa “cara memilih pemimpin” adalah satu-satunya hal yang harus diperhatikan di dalam kepemimpinan Islam, atau mengatakan bahwa “cara memilih pemimpin” adalah hal terpenting yang harus diperhatikan di dalam kepemimpinan Islam, maka sesungguhnya pendapat itu tidak dapat dibenarkan.

Hasan bin Ali ra. telah menjawab masalah ini, tidak dengan ucapan, tapi dengan tindakan real yang dicatat oleh tinta emas dalam sejarah Islam.