Prinsip utama dalam dakwah Islam itu bukanlah “asal dalil shahih”.
Prinsip utama dalam dakwah Islam itu juga bukan “yang penting aqidah”.

Prinsip utama dalam dakwah Islam itu adalah mengajarkan kepada orang lain, dan materinya disesuaikan dengan kemampuan orang tersebut untuk menerima bobot materi yang akan disampaikan.

Musaddad bercerita kepada kami. Dia berkata, “Mu’tamir bercerita kepadaku.” Dia berkata, “Saya mendengar dari bapak saya,” Dia berkata, “Saya mendengar Anas yang berkata, bahwa Nabi mengatakan kepada Muadz, “Barangsiapa yang menghadap Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa-pun, maka dia masuk surga.” Muadz berkata, “Tidakkah lebih baik jika kusampaikan kepada orang banyak ?” Nabi bersabda, “Jangan! Sesungguhnya aku takut mereka akan berpasrah diri.”
(HR. Bukhari).

Inilah dakwah Islam yang lurus. Inilah cara beragama yang benar. Yang memperhatikan kesiapan orang lain dalam menerima materi Islam. Yang tidak hanya berprinsip “asal dalil shahih”. Yang tidak hanya berprinsip “yang penting aqidah”. Karena, apa yang dilarang untuk disampaikan oleh Rasulullah pada hadits di atas juga adalah tentang aqidah.

Dengan cara dakwah seperti inilah Islam dahulu tersebar dengan penuh kebijakan. Dan, tentu saja, dengan cara dakwah seperti ini Insya Allah tidak akan muncul banyak pertentangan di kalangan ummat Islam sendiri.