Dalam hadis Abu Musa yang dimuat di dalam Shahihain dikatakan,

“Perumpamaan Allah mengutusku dengan petunjuk dan ilmu pengetahuan adalah seperti hujan lebat yang menyirami tanah. Di antara tanah itu ada yang gembur yang bisa menerima air, kemudian menumbuhkan rerumputan yang lebat. Kemudian ada pula tanah cadas yang dapat menghimpun air sehingga airnya dapat dimanfaatkan oleh manusia. Mereka minum, memberi minum kepada binatang ternak, dan bercocok tanam dengannya. Tetapi ada juga tanah yang sangat cadas dan tidak dapat menerima air, tidak dapat menumbuhkan tanaman. Begitulah perumpamaan orang yang memahami ajaran agama Allah dan memanfaatkan ajaran yang aku diutus untuk menyampaikannya. Dia memahami kemudian mengajarkannya. Dan begitulah orang yang tidak mau mengangkat kepalanya dan tidak mau menerima petunjuk Allah yang aku diutus untuk menyampaikannya.’

Muttafaq ‘Alaih, dari Mu’awiyah, al-Lu’lu’ wal-Marjan (1471)

Di sini, hanya akan dibahas tentang dua kelompok pertama dalam hadits di atas.

Kelompok pertama adalah kelompok orang-orang yang bisa memahami (kelompok tanah gembur). Mereka tahu dalil, mereka memahami dalil itu dan memahami bagaimana harus menerapkan dalil itu pada kondisi yang berbeda-beda, dan mereka mampu mengajarkannya pada orang lain.

Kelompok kedua adalah kelompok orang-orang yang hanya mengetahui dalil (kelompok tanah cadas). Kelompok ini hanya bisa mengajarkan dalil-dalil kepada orang lain, tapi tidak memahami makna dalil-dalil itu, tidak memahami bagaimana seharusnya mengamalkan dalil-dalil itu dalam kondisi yang berbeda-beda. Kalaupun ada amal yang bisa dilakukan, maka itu tidak lebih dari sekedar mengajarkan dalil-dalil, tanpa pernah tahu bagaimana kaitan dalil-dalil itu dengan kondisi dirinya, kondisi orang lain, maupun kondisi masyarakat muslim di sekelilingnya. Kelompok ini cenderung untuk mengikuti pendapat “yang terkuat dalilnya”, tanpa pernah menyadari bahwa kadangkala pendapat ini tidak akan pernah bisa diterapkan dalam kondisi saat ini.

Kalau seandainya “sekedar tahu dalil” adalah hal terbaik yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim, maka mungkin Rasulullah tidak akan pernah mengeluarkan pernyataan yang memuji kelebihan orang-orang yang mampu memahami, atas orang-orang yang hanya hafal dalil, seperti pada hadits di bawah ini:

“Semoga Allah memberi kebaikan kepada orang yang mendengarkan perkataanku kemudian dia menghafalnya, lalu menyampaikannya sebagaimana yang dia dengarkan. Bisa jadi orang yang membawa fiqh bukanlah seorang faqih, dan bisa jadi orang yang membawa fiqh ini membawanya kepada orang yang lebih faqih daripada dirinya.”

Hadits ini diriwayatkan dalam beberapa redaksi yang berbeda dari Zaid bin Tsabit, Ibn Mas’ud dan lain-lain. Sebagaimana disebutkan di dalam Shahih al-Jami’as-Shaghir (6763-6766)