Hasan bin Ali ra. adalah cucu Rasulullah. Beliau adalah khalifah kelima yang terpilih secara musyarawah pada masanya. Di tengah jalan, dengan melihat kondisi ummat Islam dan kondisi dunia perpolitikan pada masa itu, beliau meletakkan diri dari jabatan beliau sebagai khalifah, meskipun beliau telah terpilih secara musyawarah, dan meskipun beliau didukung oleh mayoritas shahabat Rasulullah maupun Tabi’in yang ada saat itu.
Ini satu contoh, betapa Islam melihat bahwa kepemimpinan memiliki ruang lingkup yang sangat luas, yang tidak hanya mencakup masalah “bagaimana cara memilih pemimpinnya”, tapi juga mencakup masalah stabilitas negara, kondisi ummat Islam, legitimasi pemimpin, dan lain sebagainya.
Kalau Islam memandang masalah kepemimpinan hanya dari sudut pandang “bagaimana cara memilih pemimpin” saja, seharusnya Hasan bin Ali ra. tidak perlu mengundurkan diri dari jabatan khalifah.
Maka, kalau ada pendapat yang mengatakan bahwa “cara memilih pemimpin” adalah satu-satunya hal yang harus diperhatikan di dalam kepemimpinan Islam, atau mengatakan bahwa “cara memilih pemimpin” adalah hal terpenting yang harus diperhatikan di dalam kepemimpinan Islam, maka sesungguhnya pendapat itu tidak dapat dibenarkan.
Hasan bin Ali ra. telah menjawab masalah ini, tidak dengan ucapan, tapi dengan tindakan real yang dicatat oleh tinta emas dalam sejarah Islam.
February 12, 2008 at 2:47 pm
Assalamualaikum. Inilah yang memang kurang dimengerti oleh “mereka” Karena sempitnya pemahaman serta taklid buta. Pokoknya Haram, dan bid’ah.
Wassalam
February 20, 2008 at 2:27 am
Kejumudan dalam berfikir kadang menyebabkan kemudahan yang telah dianugerahkan Allah tidak terbuka dengan luas. Tapi sebagai muslim yang baik, alangkah beruntungnya jika mau menyikapi mereka dengan husnudzhan pula. Ambillah satu contoh, mereka terlalu takut tergelincir kepada kesalahan, jika itu benar maka tidak apa-apa. Tapi bila yang keluar adalah sikap paling benar sendiri, paling selamat seraya mencela orang lain yang tidak sepaham dengannya dengan tuduhan yang membabi buta, ini adalah bukti betapa dangkalnya pemahaman mereka. Barakallahu fiik.
March 8, 2008 at 3:40 pm
bukan dengan sistem demokrasi khan..??
menunjukkan kalau beliau radhyallahu ‘anhu bukanlah orang yang gila kekuasaan…dan menunjukkan betapa besar hati beliau ….radyallahu ‘anhu…..
jawab:
——-
Mas Adi … apakah “terpilih melalui sistem demokrasi” adalah satu-satunya parameter yang harus digunakan untuk menentukan apakah seseorang itu gila kekuasaan atau tidak ?
Ingat, para presiden kita selama ini semuanya terpilih melalui sistem demokrasi.
Apa mereka itu adalah orang-orang yang gila kekuasaan ? Pak Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur, Ibu Megawati, Pak SBY, apa mereka semua adalah orang-orang yang gila kekuasaan ? Apa penilaian seperti inikah yang diajarkan oleh manhaj salah untuk menilai pemimpin sendiri ?
Dan apa penilaian seperti inikah yang diajarkan oleh manhaj salaf untuk menentukan seseorang itu gila kekuasaan atau tidak ?
Insyaflah ….
March 13, 2008 at 3:55 pm
apakah saya mengatakan seseorang gila kekuasaan atau tidak melalui parameter sistem demokrasi..??
jawab:
Sudah lupa dengan komentar sendiri ?
Ini saya kutipkan di bawah:
> bukan dengan sistem demokrasi khan..??
>
> Ini menunjukkan kalau beliau radhyallahu ‘anhu bukanlah orang yang gila kekuasaan…
March 14, 2008 at 2:59 pm
waduh….
ada yang salah paham rupanya…
baiklah saya jelaskan….
> bukan dengan sistem demokrasi khan..??
(maksud saya pengangkatan beliau bukanlah dengan sistem demokrasi)
> Ini menunjukkan kalau beliau radhyallahu ‘anhu bukanlah orang yang gila kekuasaan…
(maksud saya….saya mengomentari kisah yang ada pada tulisan antum, bahwa kisah tersebut menunjukkan kebesaran hati beliau radhyallahu ‘anhu ..)
demikian klarifikasi saya…
tanya lagi….
apakah demokrasi..??
March 19, 2008 at 4:08 am
…pemimpin Islam yang kita idamkan pasti akan munculpada suatu saat nya nanti..yakinlah