Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang hidup setelahku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku.”Hadits ini memberi arti bahwa apabila muncul banyak golongan di tengah-tengah umat, maka jangan berafiliasi kepada satu golongan pun. Dulu muncul sekte-sekte, seperti Khawarij, Mu’tazilah, Jahmiyyah, Syi’ah, bahkan Rafidhah. Lalu, akhir-akhir ini muncul Ikhwaniyyun, Salafiyyun, Tablighiyyun, dan kelompok lain yang semisal.Letakkanlah semua kelompok ini di samping kiri dan teruslah melihat ke depan, yaitu jalan yang ditunjukkan oleh Nabi saw, “Hendaklah kalian berpegang teguh terhadap sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin.”Tidak diragukan, wajib atas semua kaum Muslimin untuk mengambil paham salaf; bukan berafiliasi pada golongan tertentu yang disebut “As-Salafiyyun”. Yang wajib adalah hendaknya umat Islam mengambil paham salafus shalih; bukan membentuk golongan yang dinamakan “As-Salafiyyun”. Berhati-hatilah terhadap perpecahan! Ada jalan salaf; ada pula golongan yang disebut “As-Salafiyyun”. Apa yang wajib? Mengikuti salaf!
Mengapa? Karena ikhwah As-Salafiyyun adalah kelompok paling dekat dengan kebenaran. Tidak diragukan. Akan tetapi, permasalahan mereka seperti kelompok lainnya. Sebagian individu kelompok ini saling menyesat-nyesatkan, membid’ahkan, dan memfasikkan. Kami tidak mengingkari hal ini apabila benar mereka layak untuk itu. Akan tetapi, kami mengingkari terapi bid’ah-bid’ah tersebut dengan cara ini. Yang wajib adalah pemimpin-pemimpin kelompok ini berkumpul. Hendaknya mereka mengatakan, “Di antara kita ada Kitabullah ‘Azza wa Jalla dan Sunnah Rasul-Nya. Marilah kita berhukum pada keduanya; bukan pada hawa nafsu, pendapat-pendapat, dan tidak pula kepada Fulan dan Fulan.” Setiap orang bisa salah dan bisa benar meski seberapa banyak ilmu dan ibadahnya. Akan tetapi, jaminan kema’shuman hanya pada agama Islam.
Nabi saw memberikan petunjuk dalam hadits ini untuk menempuh jalan yang menyelamatkan manusia; bukan berafiliasi kepada kelompok apa pun, kecuali kepada jalan salafus shalih, yaitu sunnah Nabi saw dan para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk.
Sumber : http://www.islamgold.com/view.php?gid=2&rid=33
Dari buku: Beda Salaf dengan Salafi/Kasyfu Al-Haqaiq Al-Khafiyyah ‘Inda Mudda’I As-Salafiyyah karya Mut’ab bin Suryan Al-‘Ashimi.
(Tulisan ini kami salin dari: http://salafy.wordpress.com)
January 14, 2008 at 1:36 pm
aslmkm, halo mas…yang namanya nisbah ya ujungnya berakhiran iyy gitu..
ngikut salaf…ya salafy…ngikut salib ya salibiy ngikut muhammad bin abdul wahhab ya muhammadiy..(bukan wahabiyy, he..he, jadi enak nih disebut wahabiyy…hayo apa artinya…
cuma karena orang indonesia jadinya kacau,
ngomong sunnah jadi sunnat, katannya berbeda sunnah dengan sunnaat, wah harus banyak2 makan korma kali yah
btw, kalo sudah nisbah dan sebutan biasanya di indonesia jadi golongan…kalo sudah jadi golongan maka orang yg di luar golongan nisbahnya ya kalo berbeda pendapat ya dibenci…
maklum, masih banyak yang ngaku ngaku salafy tapi mentalnya jauh dari generasi salaf…begitu pula ustad2 yang pada ngaku salafy…(kan ustadz juga manusia…he..he.. iya sih)
tapi, menurutku (dengan segala hormat kepada syaikh al ‘alamah..nashiruddin alalbaniy) gak perlu penisbatan segala macam…cukup satu: muslim..konsekuensinya: Allah dan Rosulnya…titik…, kalo perlu ada tambahan lagi, kan harus mengikut pemahaman sahabat..tabi’in…, saya jawab: emang yang nyuruh ngikutin mereka siapa???, kan beliau saw juga kan, jadi cukuplah ngikut semua ucapan Rosul SAW…yang shahih semuanya. titik…
(do’aku buat syaikh nashir alalbaniy: smoga Allah melimpahkan rahmat-NYA)
kok aku aneh yah? kan gak boleh taqlid…kan..
menurut antum?
——————–
Jawab:
Kalau menurut saya, Syaikh Albaniy itu hanya bertujuan untuk memperjelas situasi saja, yaitu bahwa seorang muslim harus berlandaskan pada pendapat-pendapat kaum Salaf. Itu benar, dan itulah esensinya.
Tapi dalam realitanya, pendapat itu akhirnya diwujudkan oleh kebanyakan ummat Islam dalam bentuk “membentuk golongan baru yang bernama Salafi”. Dan ini-lah yang salah.
Jadi, kalau mas Wiseguy berpendapat “lebih baik kita ngaku muslim saja, tanpa embel2″ .. maka saya juga setuju.
Alasannya, karena dengan menjadi “kelompok salafi” (yang sekarang justru dikenal sering menjelek-jelekkan kelompok lain), kita justru terjatuh dalam posisi “telah memecah belah ummat Islam” atau “telah mengaku paling Islam”. Padahal hal ini salah.
Ini saja .. terima kasih sudah mampir ke blog ini.
March 14, 2008 at 9:44 am
maaf kayaknya tulisan ini sangat tendesius